Kenapa Saya Dibuang?
"Kenapa saya dibuang?" Itulah yang selalu bergema di dalam hati saya semenjak pengumuman penempatan dinas dikeluarkan. Pada pagi itu saya bangun terlalu siang sekitar pukul sembilan waktu setempat. Sedikit melakukan peregangan kemudian mengambil piring untuk sarapan. Belum sempat habis, teman saya mengirimkan saya pesan singkat, "Gg, Nip." Berdebar hebat hati saya. Saya tanyakan apa maksudnya? Saya sudah mengira apa yang dia maksud. Tidak lama kemudian, benar saja, dikirimkanlah sebuah tautan yang sudah kami berdua tunggu-tunggu. Namun, saya tak berani menanyakan apa arti "GG" itu? Apakah baik? Ataukah buruk?
Kupacu lah sepeda motor melewati sawah dan pemukiman menuju kantor desa di mana ibu saya berada. Kami pun membuka tautan itu bersama. Gemetar seluruh tubuhku saat ada nama saya dan disampingnya bertuliskan "Palangka Raya". Semua orang berkata tidak apa-apa. Tidak jauh. Masih banyak yang lain yang lebih jauh lagi. Memang, ada sedikit rasa lega di hati. Namun, kendati tidak bisa berbohong saya merasa dibuang dan diasingkan.
Tidak Seburuk Itu Kok
Tibalah hari saya menapakkan kaki di tanah Kalimantan. Sejauh mata memandang dari atas pesawat yang saya lihat adalah rimbunnya hutan. Palangka Raya memang bukan kota besar seperti Samarinda atau Balikpapan. Yang begitu saya sesali adalah laut. Laut sangatlah jauh dari kota ini. Meskipun begitu, setelah beberapa hari saya habiskan di kota ini, kota Palangka Raya adalah kota yang nyaman menurut saya. Warganya sangat ramah akan pendatang, bunyi klakson sangat jarang ditemui, kebanyakan warga taat aturan berlalu lintas. Ini benar-benar definisi kota slow living. Kota ini benar-benar klik dengan saya.
Tidak sampai di situ, takdir memberikan saya kejutan lain. Saya bertemu teman lama saya dulu di Undip, Gagas namanya. Pertemuan kami pun sangat mengejutkan. Kami bertemu di bandara saat kami berdua bertugas di masing-masing instansi kami. Gagas merupakan seorang protkoler di Jasa Raharja Kalimantan Tengah, sedangkan saya merupakan teknisi di BMKG Kalimantan Tengah. Di hari itu, Gubernur Kalimantan Tengah mengadakan kunjungan ke posko Nataru di Bandara.
Bertemu Gagas
Saat acara selesai, tiba-tiba ada suara memanggil nama saya saat saya sedang menunggu mobil kantor untuk pulang. "Nif," begitu yang kudengar. Kucarilah sumber suara tersebut. Begitu terkejutnya dengan apa yang saya lihat. "GAGAS," begitu nama di seragamnya. Oh, syit benarkah ini Gagas yang kukenal? begitu gumamku. Kujabatlah tangan dia, masih dalam keadaan shocked, kutanyalah dia beberapa pertanyaan. Entah apa yang kutanyaan saat itu, saya tidak begitu mengingatnya wkwk. Mungkin karena masih terkaget-kaget juga. Mobil pun datang. Saya pun bilang akan menghubunginya sehabis ini.
Gagas ternyata sudah lebih lama di Palangka Raya. Dia ditugaskan sejak bulan Oktober tahun itu juga, beda sekitar dua bulan lah dengan saya. Semenjak hari itu, kami sering nongkrong berdua. Saling bertukar cerita bagaimana perkuliahan kami. Saya pun bertanya banyak mengenai kondisi teman-teman di Undip.
Bertemu orang yang sudah lama dikenal di tanah seberang benar-benarlah suatu perasaan yang tidak bisa saya jelaskan. Saya merasa tidak begitu terasingkan lagi. Mungkin saja Tuhan memberi saya Palangka Raya untuk saya belajar menerima dan tetap berprsangka baik akan takdir. Apa pun takdir yang kita terima saat ini ada hal baik di depan.